Griya Literasi
Pemkot

Gua Jepang di Palembang: Jejak Sejarah yang Terancam Punah

Selasa, 11 Jun 2024 11:56 4 menit membaca
PEMKAB MUBA

Sumsel Independen – Kota Palembang memiliki segudang cerita sejarah, salah satunya adalah Gua Jepang yang terletak di Jalan AKBP H.Umar, di belakang Pasar KM 5. Gua ini merupakan salah satu peninggalan Jepang pada masa Perang Dunia II. Namun, sayangnya, gua yang bersejarah ini kini terancam punah dan lahannya diduga akan dijual oleh oknum warga.

Menurut Kemas Ari Panji, seorang akademisi di bidang Sejarah dan Peradaban Islam dari Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Jepang menjadikan Palembang sebagai salah satu target utama dalam invasi mereka ke Indonesia, khususnya karena Palembang memiliki cadangan minyak yang melimpah.

“Palembang diincar oleh Jepang terutama karena suplai energi minyak yang sangat penting bagi kepentingan perang mereka,” jelas Kemas, Senin (11/06) kemarin.

Lantas, mengapa Jepang membangun Bunker di Palembang? Kemas menjelaskan bahwa selain minyak, Jepang juga membangun sejumlah bunker di Palembang sebagai bagian dari strategi pertahanan dan pengawasan mereka selama masa perang.

“Di Palembang ini banyak titik bunker yang dibangun Jepang, meski tidak banyak diketahui oleh masyarakat karena tidak pernah diungkapkan sebagai akses sejarah oleh pemerintah kita,” tambahnya.

Namun, berbeda dengan Bukittinggi yang telah menjadikan bunker-bunker Jepang sebagai objek wisata sejarah, bunker-bunker di Palembang justru terbengkalai dan tidak terawat. Beberapa titik bunker yang diketahui berada di KM 5 hingga Karya Ibu dan Charitas bahkan belum pernah diteliti secara mendalam.

“Pada beberapa cerita lisan, bunker-bunker ini saling terhubung, namun belum pernah ada penelitian yang membuktikannya,” kata Kemas.

Sempat Ada ODGJ yang Tinggal dalam Gua

Tim Sumsel Independen melakukan penelusuran ke lokasi Gua Jepang di Jalan AKBP H.Umar dan menemukan bahwa gua tersebut telah dipenuhi rumput dan semak belukar akibat tidak adanya perawatan. Bagian dalam gua dipenuhi sampah, bau tak sedap, dan vandalisme pihak yang bertanggung jawab, menambah kesan terbengkalai dan tidak terawat.

Ida, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di sekitar Gua Jepang sejak tahun 1982, berbagi ceritanya.

“Dulu, sekitaran tempat ini sering dipakai warga untuk acara hajatan. Kalau ada acara, dibersihkan. Namun, sudah lama tidak dipakai lagi,” kata Ida kepada Sumsel Independen, Selasa (11/06) pagi.

Ia menceritakan bahwa gua tersebut dulu sempat menjadi tempat nongkrong anak muda, bahkan ada ODGJ yang sempat tinggal di dalam gua tersebut.

Ida juga pernah tinggal di sisi atas Gua Jepang sebelum pindah karena mengetahui tanah tersebut milik pemerintah dan akan dibangun taman. “Namun hingga sekarang, taman tersebut belum dibangun,” ujarnya.

Ketua Aliansi Masyarakat Peduli Cagar Budaya (AMPCB), Vebri Al Lintani, dalam kunjungannya ke gua tersebut menyatakan keprihatinannya. “Kita melihat kondisi Gua Jepang ini semakin memprihatinkan, mestinya ada dua bangunan, namun bangunan kirinya sudah ambruk dan terancam rusak berat,” ujarnya.

Vebri juga menyoroti adanya patok tanah yang menurut warga sekitar telah diklaim sebagai tanah pribadi, meskipun seharusnya tanah tersebut merupakan milik negara dan dijaga sebagai cagar budaya.

Pentingnya Kebijakan Pemerintah

Menurut Vebri, Gua Jepang ini memiliki potensi besar untuk dijadikan objek wisata sejarah yang dapat mendatangkan banyak pengunjung. “Jika diolah oleh dinas pariwisata, gua ini bisa menjadi destinasi wisata yang menarik karena posisinya yang strategis di tengah kota,” katanya.

Ia menambahkan bahwa ada tiga rumah peninggalan Jepang di Palembang yang saat ini telah menjadi rumah pribadi. “Tiga rumah tersebut difungsikan sebagai posko atau bunker kecil pada masa perang, dengan dinding tebal hingga satu meter,” ungkap Vebri.

Namun, potensi wisata ini terancam hilang jika tidak ada perhatian dan tindakan dari pemerintah daerah. “Pemerintah daerah selayaknya melihat Gua Jepang ini dari sisi pembangunan jiwa bangsa atau pembangunan kebudayaan, untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan mengenang sejarah,” tegasnya.

Kemas Ari Panji menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menjaga dan mengembangkan situs-situs bersejarah seperti Gua Jepang. “Langkah awal pemerintah adalah melakukan pembukaan dan melibatkan peneliti untuk melihat hasilnya,” ujar Kemas.

Ia juga menambahkan bahwa pemimpin yang visioner sangat diperlukan untuk melihat potensi ekonomi jangka panjang dari pengembangan wisata sejarah ini. “Dengan membangun situs bersejarah ini, kita bisa menarik wisatawan yang pada akhirnya berdampak pada ekonomi juga,” kata Kemas.

Vebri Al Lintani mengungkapkan bahwa AMPCB akan terus mengadvokasi pemerintah untuk merevitalisasi Gua Jepang ini. “Kita akan lakukan kajian dan membuat rekomendasi kepada pemerintah, karena pemerintah yang punya wewenang dan anggaran untuk merevitalisasi Gua Jepang ini,” tuturnya.

Revitalisasi Gua Jepang tidak hanya penting untuk menjaga warisan sejarah, tetapi juga untuk menjadikannya sebagai objek wisata yang dapat menarik wisatawan lokal dan internasional. “Gua Jepang ini adalah karya sejarah yang berharga, dan sangat disayangkan jika kita membiarkannya punah,” tutup Vebri. (pp)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


    MAJALAH TERBARU

    Majalah Independen Edisi LXIII
    Majalah Independen Edisi LXI

    Sponsor

    Wujudkan Supremasi Hukum
    <

    Majelis Dzikir Ustadz H. Hendra Zainuddin

    Bengkel Las Listrik Karya Jaya

    Perumahan

    xBanner Samping
    xBanner Samping
    Beranda Cari Trending Lainnya
    Dark Mode