Griya Literasi
Pemkot

Hampir Saja Orang Miskin Dilarang Kuliah

Senin, 10 Jun 2024 10:33 4 menit membaca
PEMKAB MUBA

Sumsel Independen — Kenaikan biaya kuliah Tunggal (UKT) secara serentak di berbagai perguruan tinggi di Indonesia menjadi sorotan utama dalam beberapa waktu terakhir. Peningkatan ini mengundang perdebatan di masyarakat, terutama di kalangan mahasiswa dan orang tuanya. Fenomena ini nampaknya meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan tinggi yang berkualitas namun juga menimbulkan kekhawatiran mengenai aksesibilitas dan kesetaraan pendidikan.

Alasan beberapa kampus menaikkan UKT seragam karena sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbud Ristek) Nomor 2 Tahun 2024, yang diterbitkan dengan tujuan untuk menetapkan Standar Satuan Biaya Operasional pendidikan tinggi (SSBOPT) pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di lingkungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Regulasi ini telah membuat biaya kuliah di sejumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) melambung, Hal ini dikarenakan peraturan tersebut membuka ruang atas mahalnya biaya kuliah Tunggal (BKT), Uang Kuliah Tunggal (UKT), dan Iuran Pengembangan Institusi (IPI)

Kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) di berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia menjadi isu yang sangat kontroversial. Kebijakan ini diambil dengan alasan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan fasilitas yang diberikan kepada mahasiswa. Namun, di sisi lain, kenaikan UKT juga membawa dampak yang signifikan bagi mahasiswa, terutama dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Salah satu dampak yang paling jelas adalah beban finansial yang semakin berat bagi mahasiswa dan keluarga mereka. Sebagian besar mahasiswa bergantung pada orangtua atau keluarga untuk membiayai pendidikan mereka. Dengan kenaikan UKT yang cukup signifikan, banyak keluarga harus mengalokasikan porsi anggaran yang lebih besar untuk biaya kuliah. Hal ini dapat menyebabkan pengurangan pengeluaran untuk kebutuhan lain, seperti sandang, pangan, atau bahkan kesehatan.

Bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu, dampak kenaikan UKT dapat menjadi lebih berat lagi. Meskipun ada skema pembebasan atau keringanan UKT, faktanya masih banyak yang kesulitan memenuhi persyaratan dan prosedur yang rumit. Akibatnya, mereka harus bekerja lebih keras untuk mencari sumber pendanaan lain, baik melalui beasiswa yang terbatas atau pekerjaan sambilan yang dapat mengganggu fokus studi mereka.

Tekanan finansial yang dihadapi mahasiswa dapat berdampak pada kesehatan mental dan emosional mereka. Stres tentang bagaimana membayar biaya kuliah, ditambah dengan tuntutan akademik dan aktivitas lain, dapat menyebabkan kecemasan, depresi, atau bahkan burnout. Kondisi ini tentu saja dapat mempengaruhi kinerja akademik dan kesejahteraan mahasiswa secara keseluruhan.

Selain itu, kenaikan UKT juga dapat memaksa sebagian mahasiswa untuk mengambil keputusan yang sulit, seperti menunda kelulusan atau bahkan putus kuliah. Bagi mereka yang berasal dari latar belakang ekonomi kurang mampu, prioritas utama mungkin adalah mencari pekerjaan untuk menopang kebutuhan hidup keluarga. Hal ini tentu saja sangat disayangkan, mengingat potensi dan talenta mereka yang tersia-siakan.

Dampak lain yang mungkin terjadi adalah penurunan motivasi dan semangat belajar mahasiswa. Ketika mereka merasa terbebani secara finansial, ada kecenderungan untuk kehilangan fokus dan kurang termotivasi dalam mengejar prestasi akademik. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan kualitas lulusan perguruan tinggi di masa depan.

Oleh karena itu, diperlukan solusi yang bijak dan komprehensif dalam menangani isu kenaikan UKT ini. Pemerintah perlu mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk pendidikan tinggi, sehingga perguruan tinggi tidak terlalu bergantung pada pendapatan dari UKT. Selain itu, perlu ada evaluasi yang transparan dan partisipatif terhadap sistem pembebasan atau keringanan UKT agar benar-benar tepat sasaran dan mudah diakses.

Perguruan tinggi juga seharusnya bisa mencari dana bukan hanya dari UKT saja tapi juga bisa dari penyewaan sarana dan prasarana yang ada dikampus, salah satunya penyewaan Gedung serba guna untuk acara seperti pernikahan, selain itu bisa kerjasama dengan industri atau hibah penelitian. Dengan demikian, beban kenaikan UKT tidak sepenuhnya dibebankan kepada mahasiswa dan keluarga mereka.

Setelah menjadi polemik yang Panjang bagi mahasiswa akhirnya Nadiem Makarim membatalkan kenaikan UKT, berikut beberapa alasan yang mendasari pembatalan tersebut

  1. Menindaklanjuti Masukan Masyarakat, Pemerintah memperhatikan aspirasi dari mahasiswa, keluarga, dan masyarakat yang mempersoalkan kenaikan UKT yang dinilai
  2. Kebijakan Populis, Presiden Joko Widodo tidak ingin dianggap membuat kebijakan yang tidak merakyat pada sisa masa
  3. Pendidikan yang Bagus dan Murah, Wakil Ketua DPR RI, Abdul Muhaimin Iskandar, berharap pemerintah memberikan akses pendidikan yang bagus dan murah kepada
  4. Kesalahan Penempatan Mahasiswa, Ada kemungkinan perguruan tinggi negeri (PTN) melakukan kesalahan dalam penempatan mahasiswa dalam kelompok UKT yang tidak sesuai dengan kemampuan ekonomi mereka.
  5. Membahas Kembali kenaikan UKT, Mendikbud Ristek Nadiem Makarim, telah berkoordinasi dengan para pemimpin perguruan tinggi guna membahas pembatalan kenaikan

Pada akhirnya, masalah kenaikan UKT ini membutuhkan komitmen dan kerja sama yang solid antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama, dan hanya dengan sinergi yang baik, kita dapat mewujudkan sistem pendidikan tinggi yang berkualitas sekaligus terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat. Masa depan bangsa ada di tangan generasi muda yang terdidik, dan kita semua memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa mereka tidak terhalang untuk meraih impian mereka.(MahasiswaJurnalistik/UINRF)

Laporan: Mahasiswa Jurnalistik
Editor: umi

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


    MAJALAH TERBARU

    Majalah Independen Edisi LXIII
    Majalah Independen Edisi LXI

    Sponsor

    Wujudkan Supremasi Hukum
    <

    Majelis Dzikir Ustadz H. Hendra Zainuddin

    Bengkel Las Listrik Karya Jaya

    Perumahan

    xBanner Samping
    xBanner Samping
    Beranda Cari Trending Lainnya
    Dark Mode