Himbauan Vaksin Booster

Gasra Selalu Optimis Terus Berproses Menuju Sukses

Dirgahayu Kabupaten Musi Banyuasin ke 66 Tahun
HeadlineSosial Kebudayaan

Haul ke 22, Kenang Jasa KH Abdul Malik Tadjudin Kembangkan Islam di Palembang

Sumsel Independen – Haul ke 22 KH Abdul Malik Tadjuddin yang merupakan salah satu tokoh ulama Palembang kharismatik yang juga salah satu pendiri sekaligus sesepuh kaum Nahdhiyyin (sebutan bagi pengikut Nahdatul Ulama) di Kota Palembang diperingati , Minggu (14/8) di halaman SMP-SMA NU Palembang di Jalan A Yani, Palembang dan diikuti ratusan orang dari berbagai kalangan di Palembang.

Acara juga di meriahkan dengan launching buku Sejarah Singkat KH Abdul Malik Tadjuddin “Ulama Pejuang dan Sang Pendidik yang Bersahaja.

Sejumlah pejabat dan tokoh di Palembang menghadiri haul tersebut diantaranya Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R.M.Fauwaz Diradja,S.H.M.Kn, budayawan Sumsel Vebri Al Lintani, Perwakilan Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Isnayanti, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sumsel, Mal An Abdullah , Staf Ahli Bidang Pemerintahan Hukum dan Politik DR H Rosidin Hasan, MPDi, Bendahara NU Sumsel Hernoe Roesprijadji Sip MH Msi , sesepuh keluarga KH Abdul Malik Tadjuddin Datuk DR H Ramli Sutanegara SH Msi, Kepala Kemenag Kota Palembang H. Deni Priansyah, Ketua Yayasan Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo Kgs Sarnubi, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Palembang Isnaini Madani, sejumlah ulama, asatidz/asatidzoh Kota Palembang dan tokoh masyarakat Palembang.

Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R.M.Fauwaz Diradja,S.H.M.Kn menilai dengan haul ini maka almarhum KH Abdul Malik Tadjudin ini dikuburnya mendapatkan kenikmatan-kenikmatan dari Allah SWT.

Baca Juga :   Upaya Strategis Menyongsong Pemilu 2024 Berdaulat

“ Mudah-mudahan haul kedepan bisa sekalian bisa memeriahkan nama jalan tembusan ke Jembatan Musi VI bisa diberikan nama KH Abdul Malik Tadjudin, saya yakin atas berkat jasa beliau Islam dan juga masyarakat Palembang mengerti dan memahami agama Islam dengan sebaik –baiknya dan sekafah-kafahnya,” katanya.

SMB IV menghimbau kepada seluruh generasi muda untuk meniru sifat –sifat KH Abdul Malik Tadjudin yang selalu tawadhu, sabar akan semua hal.

“ Anak –anak sekarang coba belajar sabar dan ikhlas terhadap segala cobaan dan selalu berusaha karena setelah berusaha kita ikhlas, jangan ikhlas saja tapi tidak berusaha, “ katanya.
Sesepuh keluarga KH Abdul Malik Tadjuddin Datuk DR H Ramli Sutanegara SH Msi menilai haul ini adalah contoh besar bagi semuanya dimana yang tua dihormati dan yang muda disayangi.

“ Artinya momentum ini adalah momentum tanda hormatnya anak cucu seorang ulama kepada ulama itu , dan kedua ini adalah forum silaturahmi , kalau tidak ada acara ini tidak ketemu kito dan paling penting karena jasa-jasa beliau ( KH Abdul Malik Tadjudin) dihimbau kepada pemerintah provinsi untuk jalan arah Jembatan Musi VI turun kebawah itu diberi nama beliau,” katanya.

Hal senada diungkapkan Hernoe Roesprijadji, SIP., MH., M.Si tokoh NU Sumsel yang juga fungsionaris PKB Sumsel Haul Ke 22 KH A. Malik Tadjuddin, Keikhlasan, istiqomah beliau dalam berdakwah, berhikmah kepada NU dan PKB serta masyarakat pada umumnya patut diteladani.

Baca Juga :   Muba Expo 2022, Dihibur Artis Hingga Diramaikan Ratusan Tenant UMKM

“Selamat dan sukses kepada Ir. KH Ahmad Dailami Malik Tadjuddin dalam meneruskan perjuangan almarhum. Semoga Allah SWT meridhoi,” ungkapnya.

Menurut putra sulung almarhum KH Abdul Malik Tadjuddin, Ir Ahmad Dailami kegiatan haul ini rutin dilakukan setiap tahun namun sempat tertunda selama dua tahun berturut-turut lantaran pandemi Covid 19 .

“ Jadi alhamdulilah Covid-19 sudah menurun ini haul yang ke 22 kita adakan lagi di halaman sekolah NU ini dengan harapan kedepan kita memperoleh barokah dengan mengadakan haul ini,” katanya.

Dailami mengisahkan bagaimana sosok KH Abdul Malik Tadjudin ini begitu cinta dengan Islam dimana saat NU pertama kali didirikan oleh Hadratus Syech Hasyim Asy’ari di tahun 1926, KH Abdul Malik Tadjuddin baru berusia delapan tahun.

“Di saat itu masa beliau nyantri dengan ulama terkemuka di Palembang. Di usia 12 tahun beliau sudah berdakwah makanya dijuluki dengan sebutan Kyai Kecik atau kecil,” kata Dailami yang juga penulis buku Sejarah Singkat KH Abdul Malik Tadjuddin “Ulama Pejuang dan Sang Pendidik yang Bersahaja” ini.

Menurutnya kesederhanaan dan sikap legowo yang patut untuk ditauladani dari sosok ayahandanya itu.

“Yang beliau senantiasa pegang teguh dalam berdakwah dia akan maju ke depan apabila diinginkan, dan ada di belakang jika situasi telah membaik. Dan dalam berdakwah berpegang teguh pada ajaran ahlussunah wal jamaah prinsip ajaran Nahdatul Ulama,” kata Dailami yang kini juga mengelola SMP dan SMA NU Palembang, peninggalan almarhum KH Malik Tadjuddin yang ada di Jalan Ahmad Yani Kelurahan 9/10 Ulu Kecamatan SU-1 ini.

Baca Juga :   Mantan Walikota Palembang Dua Periode Takjub dengan Kemajuan Muba

Tak heran, jika di tahun 1947-1949 saat kedatangan kembali tentara KNIL (Belanda) yang membonceng NICA yang bermaksud untuk kembali menjajah Indonesia, jiwa KH Abdul Malik Tadjudin terusik. Meneruskan semangat jihad yang dikobarkan oleh Hadratus Syech Hasyim Asy’ari saat itulah KH Abdul Malik Tadjudin ikut berjuang melalui jalur dakwah. Tentara KNIL yang melihat situasi tersebut lalu menahan KH Abdul Malik Tadjudin beberapa saat lamanya.

Anak didiknya pun tersebar merata di seantero nusantara. Bahkan, diantara mereka tersebut nama Prof Dr Jimly Asshidiqie yang merupakan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Dr KH Amiruddin Nahrawi,M.PdI (Ketua PBNU), Prof Dr Hj Fatimah,SE,M.Si serta dua ulama kondang Palembang yang sudah terlebih dulu berpulang menghadap sang khalik yakni KH Kgs Ahmad Nawawi Dentjik dan KH Taufik Hasnuri.

KH Abdul Malik Tadjudin wafat pada 10 Agustus 2000 pada usia 82 tahun dan dimakamkan di pemakaman keluarga Ungkonan H Nang Lenggok Kelurahan 3-4 Ulu.

Acara dimulai dengan pembacaan surat yaasin bersama dipimpin Ustadz KH Syafe’i Yunus dilanjutkan dengan pembacaan manaqib (sejarah) singkat almarhum oleh Ustadz KHM Nurdin Mansyur. Dilanjutkan tausiyah oleh Ustadz KHA Majid Dahlan. (Al/*)

Sumsel Independen

Redaksi Sumselindependen.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button