Griya Literasi
Pemkot

Kewaspadaan Terhadap Bahaya Orthorexia Nervosa: Ketika Obsesi Makan Sehat Menjadi Gangguan

Rabu, 15 Mei 2024 14:47 4 menit membaca
PEMKAB MUBA

Sumsel Independen Belakangan ini, semakin banyak orang yang mulai menerapkan pola hidup sehat. Salah satu caranya adalah dengan mengadopsi pola makan bersih atau ‘clean eating’ yang hanya mengonsumsi makanan segar dan utuh yang diproses seminimal mungkin.

Pola makan tersebut tentu baik untuk menjaga berat badan ideal dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Namun, kamu perlu berhati-hati agar dorongan untuk makan sehat tersebut tidak berkembang menjadi gangguan makan yang disebut orthorexia nervosa. Seperti gangguan makan lainnya, orthorexia bisa menyebabkan dampak buruk. Berikut ulasannya.

Apa Itu orthorexia?

orthorexia nervosa atau orthorexia adalah gangguan makan yang melibatkan obsesi yang tidak sehat dengan makanan sehat. Tidak seperti gangguan makan lainnya, kebanyakan kasus orthorexia berfokus pada kualitas makanan, bukan kuantitasnya.

Berbeda dengan pengidap anoreksia atau bulimia, pengidap orthorexia jarang berfokus pada penurunan berat badan. Melainkan mereka memiliki obsesi yang ekstrem dengan ‘kemurnian’ makanan mereka, dan terhadap manfaat makan sehat.

Meskipun American Psychiatric Association maupun DSM-5 belum secara resmi mendefinisikan kondisi tersebut sebagai gangguan makan, orthorexia sudah dikenali di kalangan komunitas medis.

Alexis Conason, PsyD, psikolog klinis berbasis di New York dan pencipta The Anti-Diet Plan, melihat gangguan makan tersebut lebih sering muncul karena adanya perubahan dalam budaya yang tidak lagi menganggap bahwa tubuh yang ideal adalah tubuh yang sekurus mungkin, melainkan tubuh yang bugar dan sesehat mungkin.

Namun, karena sama-sama memiliki tujuan untuk mencapai kesehatan yang sempurna, kadang-kadang sulit untuk membedakan antara pola diet yang benar-benar sehat dengan orthorexia.

Meskipun memiliki obsesi pada kualitas makanan yang dikonsumsi tampaknya baik, namun pengidap orthorexia nervosa dapat sangat membatasi asupan makanannya berdasarkan kualitas kandungannya atau jenis makanannya.

Kondisi tersebut bukan hanya bisa memberi dampak buruk pada kesehatan fisik pengidap, tapi kesehatan mental bahkan kehidupan sosial pengidap juga terpengaruh. Berikut bahaya orthorexia nervosa:

1. Dampak Terhadap kesehatan fisik

Meskipun penelitian tentang orthorexia nervosa masih terbatas, namun kondisi ini diketahui dapat menyebabkan banyak komplikasi medis yang sama seperti gangguan makan lainnya.

Misalnya, pembatasan asupan makanan yang ketat yang diterapkan oleh pengidap orthorexia dapat menyebabkannya mengalami malnutrisi, anemia, atau detak jantung yang melambat secara tidak normal. Malnutrisi yang parah dapat menyebabkan masalah pencernaan, ketidakseimbangan elektrolit dan hormon, asidosis metabolik, dan gangguan kesehatan tulang.

Dampak fisik yang bisa terjadi akibat orthorexia nervosa ini tidak boleh diremehkan, karena bisa mengancam nyawa.

2. Dampak Terhadap kesehatan mental

Pengidap orthorexia dapat mengalami frustasi yang parah ketika kebiasaan terkait makanan mereka terganggu. Apalagi bila mereka melanggar aturan diet yang sudah mereka buat sendiri, maka hal itu bisa menimbulkan perasaan bersalah, membenci diri sendiri atau dorongan untuk melakukan ‘pemurnian’ lebih lagi melalui berpuasa atau detoksifikasi.

Selain itu, pengidap juga cenderung menghabiskan banyak waktu untuk meneliti apakah makanan tertentu cukup ‘bersih’ atau ‘murni’. Mereka sering khawatir apakah sayuran yang ingin mereka makan sudah terpapar pestisida, atau adakah tambahan perasa atau pengawet buatan dalam produk susu mereka.

Di luar makanan yang dikonsumsi, pengidap juga menghabiskan banyak waktu untuk meneliti, membuat catatan, menimbang dan mengukur makanan atau membuat rencana makanan untuk kemudian hari.

Nah, penelitian terbaru melaporkan bahwa obsesi atau keasyikan terhadap makanan dan kesehatan tersebut dikaitkan dengan memori kerja yang lebih lemah. Selain itu, orang yang mengidap orthorexia juga cenderung tidak bisa bekerja dengan baik pada tugas-tugas yang membutuhkan keterampilan untuk memecahkan masalah yang fleksibel.

3. Dampak Sosial

Pengidap orthorexia tidak suka berkompromi dalam hal makanan. Mereka juga sering menetapkan aturan ketat mengenai jenis-jenis makanan yang bisa dimakan pada saat-saat tertentu di siang hari.

Pola makan yang kaku seperti itu bisa menyulitkan pengidap untuk mengambil bagian dalam kegiatan sosial yang melibatkan makanan, seperti pesta makan malam atau makan di luar rumah.

Selain itu, pikiran tentang makanan yang mengganggu dan adanya kecenderungan untuk menganggap kebiasaan makan mereka lebih baik dari orang lain, dapat semakin mempersulit pengidap untuk bersosialisasi.

Hal itu dapat menyebabkan isolasi sosial yang tampaknya umum terjadi di kalangan pengidap orthorexia.

Mengatasi orthorexia

Oleh karena itu, penting untuk mewaspadai orthorexia nervosa yang bisa menimbulkan dampak-dampak yang berbahaya seperti di atas. Bila kamu selalu menghabiskan banyak waktu untuk menilai makanan berdasarkan kualitasnya dan kamu membatasi asupan makanan secara ketat, bicarakan masalah tersebut pada dokter. Terapi kognitif-behavioral dan konseling gizi mungkin diperlukan untuk membantu mengatasi gangguan ini.(umi)

Laporan: Sri Jumiarti

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


    MAJALAH TERBARU

    Majalah Independen Edisi LXIII
    Majalah Independen Edisi LXI

    Sponsor

    Wujudkan Supremasi Hukum
    <

    Majelis Dzikir Ustadz H. Hendra Zainuddin

    Bengkel Las Listrik Karya Jaya

    Perumahan

    xBanner Samping
    xBanner Samping
    Beranda Cari Trending Lainnya
    Dark Mode