Gerakan Sumsel Mandiri Pangan

HukumSosial Kebudayaan

Masa Pandemi Covid-19, Angka Perceraian di Sumsel Dinilai Semakin Meningkat

Sumsel Independen – Dampak Covid-19 semakin menjadi perhatian bagi berbagai pihak, salah satunya yaitu Women Crisis Cantre (WCC) Palembang. Dalam hal ini, WCC Palembang nampak menyoroti persoalan terkait meningkatkannya angka perceraian di Sumsel yang dinilai juga berpengaruh di masa Pandemi Covid-19.

Direktur Eksekutif WCC Palembang, Yeni Roslaini Izi pada masa pandemi covid-19 terjadi peningkatan angka perceraian di sejumlah kabupaten/kota di Sumsel.

“Angka pastinya saya tidak begitu hafal. Tapi angka perceraian mengalami kenaikan tiga kali lipat dibanding hari biasa sebelum pandemi covid-19.

Misalnya di WCC Palembang sendiri biasanya dalam satu bulan hanya 2-3 kasus yang minta pendampingan, tetapi di masa pandemi ini satu bulan itu sampai 7 kasus yang minta pendampingan kami,” ujar Yeni usai menjadi pemateri pada acara Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Sumsel bertema Perlindungan perempuan terhadap kekerasan dalam rumah tangga di masa Pandemi Covid-19 di Aula DPRD Sumsel, Jumat (25/9) kemarin.

Baca Juga :   Manfaatkan Lahan Seadaanya, Sertu Rudi Sulap Kampung Kumuh Menjadi Kampung Sayur

Menurutnya berbagai faktor pemicu terjadinya peningkatan angka perceraian di masa pandemi covid 19 ini, seperti terlalu lama berdiam dirumah. Karena sebagian orang tak jarang mengibaratkan rumah adalah neraka, tetapi ada juga yang mengibaratkan rumah sebagai surga. Nah bagi mereka yang menganggap rumah adalah neraka, berdiam diri dirumah menjadikan diri tidak betah.

Dilanjutkan Yeni, sebagian orang yang tidak terbiasa di rumah justru membuat diri menjadi stres. Apalagi pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap di rumah.

“Kadang komunikasi dirumah tidak baik, timbul pertikaian, ini juga menjadi pemicu terjadinya perceraian,” katanya.

Selain itu, faktor ekonomi juga menjadi faktor utama terjadinya perceraian. Selama pandemi ada yang mengalami penghasilan berkurang, juga terjadi PHK, ini juga menjadi pemicu tingginya angka perceraian.

Hal lain yang memicu terjadinya perceraian di masa pandemi ini yaitu sekolah di rumah. Dimana seorang ibu yang sudah banyak mengerjakan hal dalam urusan rumah tangga dan tak jarang ada yang berkerja, harus menambah ekstra kegiatan dengan mengajarkan anak sekolah dari rumah.

Baca Juga :   Satgas TMMD Penuhi Adanya Permintaan Kegiatan Majelis Taklim Ibu-Ibu.

Kebiasaan “ngemal” yang selama ini bisa dilakukan kapanpun, sementara dimasa pandemi ini harus menahan diri untuk tidak berjalan ke mal juga menjadi pemicu terjadinya perceraian.

“Belajar dari rumah itu membuat ibu kelelahan, kan jarang ada ayah yang mendampingi anaknya untuk belajar dari rumah. Belum lagi tidak bisa ngemal. Nah ini membuat kelelahan akhirnya, ai sudahlah, akhirnya bercerai,” ujarnya.

Untuk menghindari terjadinya perceraian, kata Yeni suami istri harus pandai menjalin komunikasi yang baik dan berusaha menciptakan suasana yang menyenangkan jangan sampai stres.

“Ciptakan suasana yang tidak cepat bosan, ciptakan suasana gembira,” imbuhnya.

Sementara itu Ketua DPD KPPI Sumsel, RA Anita Noeringhati merasa prihatin dengan tingginya angka perceraian di masa pandemi covid-19 ini.

“Dalam penjelasan tadi, faktor ekonomi menjadi faktor pemicu terjadinya perceraian, nah melalui diskusi ini kita berupaya mencegah terjadinya perceraian dan tindak kekerasan dalam rumah tangga yang sering dialami wanita,” pungkasnya. (Ril/WrC)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button