Himbauan Vaksin Booster

Banner Abdullah Taufik

Gasra Selalu Optimis Terus Berproses Menuju Sukses

Dirgahayu Kabupaten Musi Banyuasin ke 66 Tahun
HeadlineSosial Kebudayaan

Mengenal Tari Sondok Piyogo dan Gending Sriwijaya

Sumsel Independen – Rangkaian dari kegiatan pagelaran seni rupa bertajuk “Sukma Ekologis” Dalam Karya Iqbal J Permana dan Fir Azwar di Auditorium RRI Palembang, Kamis (10/11) lalu , Sabtu (12/11) pagi digelar diskusi mengenai Tari Sondok Piyogo dan Tari Gending Sriwijaya di Auditorium RRI Palembang.

Dengan narasumber budayawan Sumsel Vebri Al Lintani dengan moderator sejarawan Sumsel yang juga dosen Universitas Sriwijaya (Unsri) Dr Dedi Irwanto MA.

Acara dihadiri diantaranya seniman Sumsel Iqbal J Permana dan Fir Azwar, Isnayanti Syafrida , siswa dan siswi SMAN 6 Palembang dan SMAN lainnya di Palembang ,Kerabat Kesultanan Palembang Darussalam, masyarakat umum dan mahasiswa dan mahasiswi yang mengikuti program pertukaran mahasiswa modul nusantara yang berasal dari universitas seluruh Indonesia melakukan tugas studi di Universitas Sriwijaya (Unsri), Putra Putri Kesultanan Palembang Darussalam.

Dalam kesempatan tersebut , peserta yang hadir termasuk mahasiswa dan mahasiswi yang mengikuti program pertukaran mahasiswa modul nusantara yang berasal dari universitas seluruh Indonesia melakukan tugas studi di Universitas Sriwijaya (Unsri) sempat mempraktekkan langsung cara menari tari Sondok Piyogo dan Gending Sriwijaya tersebut.

Baca Juga :   Petani Ganja Di OKU Timur Digerebek Polisi

Menurut Vebri Al Lintani Tari Sondok Piyogo merupakan tari sambut Kesultanan Palembang Darussalam .Tarian ini dibawakan oleh 6 penari yang semuanya laki-laki yang melambangkan Rukun Iman, sedangkan secara filosofi artinya “adat dipangku syariat dijunjung” (Sondok Piyogo).

Menurutnya, maknanya dimanapun orang Palembang berada wajib menjalankan syariat agama dan menjunjung adat Palembang.

Selain itu alasan penarinya diwajibkan harus laki-laki bukan perempuan, karena perempuan tidak boleh menunjukkan auratnya (walau dalam busana) dengan ditonton oleh banyak orang.

Sedangkan alat musik hanya 2 buah yaitu terbangan dan Bonang atau Gong. Kostumnya dengan warna yang bercirikan Palembang Darussalam.

“Persepsi kita bahwa Kesultanan Palembang Darussalam ini pada masa lalu tabu kalau perempuan yang menari, sehingga kita buat laki-laki semua yang menari sebagai cerminan kita ini memegang ajaran Islam,” jelasnya.

Untuk itulah menurutnya gerakan tari Sambut Sondok Piyogo merupakan gerakan dari berwudhu, gerakan keseharian dan gerakan berpencak atau bertanggem.

Baca Juga :   BNNK OKU Timur Rehabilitasi Dua Pecandu Narkoba Limpahan Polres OKU Selatan

Menurutnya tari sambut Sondok Piyogo diambil dari saripati nilai-nilai Kesultanan Palembang Darussalam.

Dalam tarian ini menurutnya, ada rentakan Syarofal Anam, terbangan yang biasa diarak di Palembang ada zikir, syair, shalawat, syair yang dibacakan dalam bahasa Palembang halus.

” Jadi tari sambut Kesultanan Palembang Darussalam ini kami beri judul Sondok Piyogo. Sondok Piyogo itu adalah tata krama yang jadi pedoman dengan semboyan, adat dipangku, syariat di junjung. Kalau tadi ada gerakan keatas , dijunjung maksudnya,” katanya.

Sedangkan mengenai tari Gending Sriwijaya menurut Vebri , dibuat untuk menyambut pemerintah Jepang, pertama kali ditarikan di depan Masjid Agung tujuh hari sebelum kemerdekaan. Setelah itu tari ini menjadi tari sambut di Sumsel.

Diceritakan Vebri, gerakan tari ini diciptakan oleh Tina Haji Gong dan Sukainan A Rozak. Lagu Gending Sriwijaya adalah lagu Sriwijaya Jaya yang dicipkan oleh A Dahlan M. Sedangkan syair lagu Gending Sriwijaya diciptakan oleh tim yang diketuai oleh Nungtjik AR, ketika itu menjabat sebagai Kepala Kantor Hadohan (Departeman Panerangan Jepang).

Baca Juga :   Gubernur Mudahkan Warga Luar Palembang untuk Dapatkan Oksigen Gratis 

“Namun, pada 1965 PKI meletus karena Nungtjik AR, pencipta syair lagu Gending Sriwijaya terlibat PKI, setelah itu hampir beberapa lama tari ini tidak mainkan, untuk menutupi tari sambut, maka gerakan tari Gending Sriwijaya lagunya diganti lagu Enam Bersaudara, jadilah tari Tanggai yang sering ditarikan saat acara pernikahan. Tari Gending Sriwijaya kemudian dimantapkan sebagai tari sambut tamu agung, sedangkan tari Tanggai untuk tamu biasa,” jelasnya.

Sedangkan sejarawan Sumsel yang juga dosen Universitas Sriwijaya (Unsri) Dr Dedi Irwanto MA mengaku sengaja mengajak mahasiswa dan mahasiswi yang mengikuti program pertukaran mahasiswa modul nusantara yang berasal dari universitas seluruh Indonesia melakukan tugas studi di Universitas Sriwijaya (Unsri) untuk mengikuti diskusi ini guna mengetahui kesenian dari Sumsel terutama Tari Sondok Piyogo dan Tari Gending Sriwijaya.

“ Nanti para mahasiswa dan mahasiswi bisa mengenal budaya dan kesenian dari Sumsel selama berada di Palembang dan rencananya mereka akan menampilkan kesenian Sumsel saat di acara mereka nanti,” katanya. (Ril)

Hj. Anita Noeringhati, Ketua DPRD Provinsi Sumatera Selatan

Sumsel Independen

Redaksi Sumselindependen.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button