Gerakan Sumsel Mandiri Pangan

HeadlineHukumPendidikan

Dua Korban Pelecehan Seksual Fakultas Ekonomi UNSRI Penuhi Panggilan Pihak Fakultas

Dekanat FE Tidak Mau Bicara

Sumsel Independen – Dua Korban Pelecehan seksual Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya Penuhi panggilan dekanat Di ruang rapat program studi magister manajemen unsri bukit besar Palembang (4/12).

Tindak lanjut dari persoalan yang tersebar luas di media sosial terkait pembatalan yudisium yang diduga korban pelecehan seksual, yang mana dalam pemanggilan ini pimpinan dari fakultas ekonomi universitas Sriwijaya dikabarkan akan memberikan klarifikasi.

Namun dalam hal ini dari pihak pimpinan fakultas ekonomi universitas Sriwijaya hanya akan memberikan klarifikasi secara tertutup, meminta korban untuk masuk tanpa berwakil atau menyertakan orang lain.

Korban tiba di dekanat pukul 16.30 dan masing-masing didampingi keluarga korban dan kawan-kawan dari BEM FE, maupun BEM KM Unsri.

Farrel Farhan selaku ketua BEM Fakultas Ekonomi dalam hal ini menyampaikan bahwasanya beliau bersama rombongan sebelum menuju Dekanat fakultas ekonomi universitas Sriwijaya mereka mengawal korban ke Polda Sumsel untuk menjadi saksi pemberat dari laporan yang sudah ada.

Baca Juga :   Kabar Baik, Pemprov Sumsel Cairkan Intensif Nakes Covid-19 

“Tadi mengawal korban ke Polda Sumsel untuk menjadi saksi pemberat dari laporan yang sudah ada dua korban awal, kedepannya nanti dari dua korban yang sudah ada BEM FE unsri bakal melaporkan dengan laporan yang baru jika ada celah yang bisa dilaporkan tentunya dengan kuasa hukum korban tersebut” ujarnya.

“Sejauh ini saya sudah melihat secara langsung fakta yang terjadi tentang korban baru dari BEM FE unsri dan motif maupun latar belakang itu sama polanya bisa dibilang demikian dari chat, kemudian juga mengarah ke arah pelecehan seksual secara verbal tadi” tambahnya.

Pantauan sumsel independen turut hadir Kepala dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak provinsi sumatera selatan yang ikut masuk kedalam ruangan bersama korban.

Dwiki Sandy selaku Presiden Mahasiswa BEM KM UNSRI Yang ikut masuk kedalam ruangan untuk mengawal Korban menyampaikan bahwasanya didalam hanya menjelaskan kronologis, apa yang dirasakan dan apa saja yang dialami oleh korban dan belia juga mengatakan tidak tahu apa yang membuat pihak dekanat untuk tidak menghadirkan pelaku.

Baca Juga :   Sekda Nasrun Umar  Ingatkan Pedagang dan Pengunjung  Pasar Km 5 Palembang  Tetap Patuhi Prokes

“Didalam hanya sebatas menjelaskan kronologis, apa yang dirasakan dan apa saja yang dialami oleh korban, korban ada dua” ujarnya.

Sementara itu orang tua dari pihak korban yang dalam hal ini menyampaikan mereka sudah mengetahui persoalan ini sejak satu bulan yang lalu, namun baru datang ke Palembang pada pekan ini.

“Sebenarnya sejak satu bulan yang lalu masalah ini sudah kami dapat, tapi baru Minggu ini Kami datang ke Palembang, kami dari dusun ini” ujarnya

“Harapan kami pihak unsri untuk menyelesaikan masalah ini dengan tegas dan tidak ada lagi intimidasi pada anak-anak kami termasuk anak-anak yang lain” harapnya.

Orang tua korban juga mengatakan tidak ada tanggapan dari pihak dekanat, pihak dekanat hanya sebatas menanyakan saja.
Harapan beliau terhadap pihak kampus agar dapat memecat pelaku dosen yang dapat dikatakan tidak bermoral dan merugikan orang lain. Dan sejauh ini orang tua korban menyampaikan anaknya dalam keadaan baik-baik saja.

Baca Juga :   Menko Perekonomian Airlangga Hartato Puji Komitmen Herman Deru Sejahteraan Petani Sawit Sumsel

Sejauh ini dari pihak dekanat tidak ada satupun yang keluar dari ruangan sehingga tidak dapat untuk diminta keterangan.

Sedangkan kepala dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Sumsel enggan untuk diwawancarai dan hanya mengatakan bahwa ini instruksi dari gubernur untuk melakukan pengawalan pada kasus ini. (Ali)

Sumsel Independen

Redaksi Sumselindependen.com

Related Articles

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button